People Change, Journal Change

This is unfortunate news from Indonesia. The Bali Medical Journal, a prominent publication in the field of medicine, has been a key player in the Indonesian academic landscape. Well, I just knew this information yesterday.

Initially published online and in print by Udayana University in collaboration with Sanglah General Hospital, the journal has been independently managed by Intisari Sains Medis Inc since 2018. It was indexed in both Scopus and Web of Science, which confirmed its reputable status.

However, as of March 2024, the Bali Medical Journal has been removed from Scopus (https://www.scopus.com/sourceid/21101024217). The reason cited is related to RADAR, a data analytics algorithm developed by Elsevier Data Scientists to identify journals with outlier performance in the Scopus database. RADAR flags issues such as:

  1. Abrupt and unexplained increases in the number of published articles
  2. Unexplained changes in the geographical diversity of authors or affiliations
  3. Unexpected shifts in publication topics compared to the journal’s stated aims and scope
  4. Elevated self-citation rates

According to Scopus records, the Bali Medical Journal’s publication volume surged from 144 documents in 2019 to 566 in 2023, reflecting a sharp increase. Additionally, its self-citation rate rose significantly from 48 in 2022 to 444 in 2023, according to Scimago (https://www.scimagojr.com/journalsearch.php?q=21101024217&tip=sid&clean=0). The journal’s APC also exceeds 1000 USD, and its website features numerous Google Ads.

While I won’t comment negatively on the journal, as I mentioned in my YouTube channel, people change. Changes in editorial teams can influence a journal’s trajectory. It is not easy to be the Editors.

Additionally, many authors often request “Fast-track Reviews” and “Letters of Acceptance” for graduation under the table, usually in exchange for money. This situation tests the integrity of the editors.

This situation is a reminder for all editors, especially for me myself, to be vigilant about maintaining the integrity of academic publishing. Let’s hope no other Indonesian journals face similar issues with Scopus.

What’s next? Discontinued titles will only be considered for evaluation again 5 years after the discontinuation decision was made. This is wasting the time.

***

[In Bahasa]

Saya baru tahu ini kemarin. Ini adalah berita yang mengecewakan dari Indonesia. Bali Medical Journal, jurnal terkemuka di bidang kedokteran, teruntuk di Indonesia. Awalnya diterbitkan secara online dan cetak oleh Universitas Udayana bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Sanglah, jurnal ini telah dikelola secara mandiri oleh Intisari Sains Medis Inc sejak 2018. Jurnal ini terindeks di Scopus dan Web of Science, yang menunjukkan statusnya yang bereputasi.

Namun, per Maret 2024, Bali Medical Journal telah dihapus dari Scopus (https://www.scopus.com/sourceid/21101024217). Alasan yang dikemukakan terkait dengan RADAR, algoritma analitik data yang dikembangkan oleh Ilmuwan Data Elsevier untuk mengidentifikasi jurnal dengan kinerja yang tidak biasa dalam basis data Scopus. RADAR menandai masalah seperti:

  1. Peningkatan jumlah artikel yang diterbitkan secara tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan
  2. Perubahan yang tidak dapat dijelaskan dalam keberagaman geografis penulis atau afiliasi
  3. Perubahan yang tidak terduga dalam topik publikasi dibandingkan dengan tujuan dan ruang lingkup jurnal
  4. Tingkat sitasi diri yang tinggi (level jurnal)

Menurut catatan Scopus, volume publikasi Bali Medical Journal melonjak dari 144 dokumen pada tahun 2019 menjadi 566 pada tahun 2023, mencerminkan peningkatan yang tajam. Selain itu, tingkat sitasi diri jurnal ini meningkat signifikan dari 48 pada tahun 2022 menjadi 444 pada tahun 2023, menurut Scimago (https://www.scimagojr.com/journalsearch.php?q=21101024217&tip=sid&clean=0). APC jurnal ini juga melebihi 1000 USD, dan situs webnya menampilkan banyak Google Ads.

Meskipun saya tidak akan memberikan komentar negatif tentang jurnal ini, seperti yang saya sebutkan di saluran YouTube saya, “setiap orang bisa berubah.” Perubahan dalam tim editorial dan motivasi finansial dapat mempengaruhi arah jurnal. Tidak mudah menjadi editor.

Selain itu, banyak penulis sering meminta “publikasi cepat” dan “surat penerimaan” untuk kelulusan secara sembunyi-sembunyi, biasanya dengan imbalan uang. Situasi ini menguji integritas para editor.

Kejadian ini adalah pengingat bagi semua editor, terutama bagi saya pribadi, untuk tetap waspada dalam menjaga integritas penerbitan jurnal akademik. Semoga tidak ada jurnal Indonesia lainnya yang menghadapi masalah serupa.

Apa selanjutnya? Jurnal yang dihentikan hanya akan dipertimbangkan untuk evaluasi kembali 5 tahun setelah keputusan penghentian dibuat. Dan ini sangat menghabiskan waktu.

About Author

2 thoughts on “People Change, Journal Change

    1. I appreciate your perspective! When I say ‘people change,’ I’m referring to changes in their actions and behavior over time. What you mentioned about situations amplifying actions actually aligns with the idea that people can change. It’s not just about their core selves, but how they adapt and respond to different circumstances.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *