Archive 2024: New Beginnings, New Adventures

The Indonesian version is available after the English version [Terjemahan Bahasa Indonesia ada di bawah].

I don’t even know where to start. One thing’s for sure—2024 has been an unforgettable year for me.

To cut a long story short, on February 11, 2024, I got married to a lovely girl from Thailand. So yeah, the bond between the Garuda and the White Elephant is still going strong! Hehe… The whole thing went by fast, honestly, since we kept the wedding simple, just inviting close family and relatives. We had around 200 people from my wife’s side of the family.

Don’t even ask about “Mahar”—let’s just say it’s pretty much the same as in Indonesia. But for young people, it’s clear—you need to have some savings if you’re thinking of getting married! Alhamdulillah, blessings don’t go to waste when your intentions are good. For a glimpse of the event, you can check out the YouTube video here:

That was the wedding in Thailand, and then in March, we had a celebration in Belitung—what we call Ngunduh Mantu, which basically means the newlyweds stay overnight with the family. Now, this part was where all the money went… haha. I mean, we invited about 5,000 people, so you can imagine how quickly the finances drained! Fortunately, I had prepared for the wedding expenses for a while, so it wasn’t too much of a burden on our parents. You know how it is—Belitung is still in a bit of a crisis. Here’s a video from the Belitung event:

Initially, the plan was to stay and work in Thailand after marrying a Thai girl—keep things simple, right? Bangkok kind of feels like a second home for me. I’ve got a bunch of friends here to play soccer with, haha, and I know my way around the fields.

But, of course, life has its surprises. Out of the blue, I got a tempting offer from one of the world’s top universities, the National University of Singapore (NUS), ranked in the top 8 globally. Now, that got me seriously confused. It all happened so fast!

The whole Singapore move came out of nowhere. One of the professors at NUS sent me an email about a research collaboration because of my records on the Top 2% scientist ranking list for several years (probably). This record is really serious among researchers in NUS. It caught a lot of attention, and people started reaching out. Alhamdulillah! When the professor realized I was just a postdoc/researcher, she connected me directly with the department head. That same day, we had a Zoom meeting, and the next thing I knew, I was invited to Singapore for free. Well, with that kind of professionalism, what could I do but go for it? It sounds about right.

After convincing my wife—who was even more confused than I was—Alhamdulillah, she’s also excited to experience life in a foreign country. Who knows where life will take us, right? The good news is that Singapore is so close to Batam (where my younger sister is studying), so there’s a silver lining.

We’ve been in Singapore for two months now, since October 31. And let me tell you, everything here is way more expensive than in Thailand, especially for the apartment rental, which costs per person, not per room or unit, unless you take all studios. Approximately 3000 SGD per month (or 75000 baht or 35 million IDR). My wife and I are still in shock. Haha, but InsyaAllah, we’ll figure it out.

But there’s one thing missing—our little family, Dr. DokDek and Dr. Yuki. Singapore has strict rules about bringing cats. After their vaccinations, we have to wait 90 days, and the earliest available quarantine slot is in June next year. Can you believe it?! DokDek and Yuki are my work buddies. Whenever I’m stressed from analyzing data or editing manuscripts, they always make me laugh with their antics. We argue sometimes, but the good thing is, they never hold a grudge once I give them some Whiskas or Cat Creamy… haha. And my wife has been living with Yuki for over 10 years now. Imagine the bond between them. If you’re not a cat lover, you probably won’t get it. But if you are, you totally understand.

So, we’re heading back for a quick New Year’s celebration with them. I really miss them. My best friends! Please stay strong. We can do this together!

And that’s my reflection on this year. Next year, InsyaAllah, will be filled with a lot of work. I just pray that I stay strong in faith and continue to be a better person for my wife, family, and community, grateful for everything.

Thank you, 2024. Bismillah…

Wait, in the midst of those two events, there was also one thing that happened when my wife and I went to Vietnam. I met a young man who was searching for information about Islam at a mosque in Hanoi. Alhamdulillah… with my very limited knowledge of Islam, this was my first experience in helping someone embrace Islam. It was truly an incredible moment.

Regarding other matters, please don’t ask why we don’t have children yet. We’re currently on a postponement program, God willing, soon. So many questions, haha!

***

[Indonesian version]

Ntah lah, bingung mulainya dari mana. Yang jelas ada dua hal besar yang terjadi dalam hidup saya. Pokoknya, tahun 2024 ini memang tiada duanya.

Singkat cerita di tanggal 11 February 2024, saya melangsungkan pernikahan dengan gadis dari Thailand. Intinya silaturahmi antara garuda dan gajah putih tetap terjalin. Semua berlangsung cepat, karena memang acara nikahnya tidak pakai ribet dan hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat. Diperkirkan kemarin ya sekitar 200 orang lah dari keluarga orang tua istri.

Jangan tanya lah soal mahar, mirip-mirip lah sama dengan orang Indonesia. Yang jelas bagi generasi muda, ya siapin lah duit kalau mau nikah mah. Alhamdulillah rezeki gak kemana kalau niatnya baik. Untuk sekilas acaranya bisa dilihat di video Youtube berikut:

Ya itu acara untuk di Thailand, di bulan Maretnya lanjut acara di Belitung, begawai kata orang kita. Judul acaranya ya “Ngunduh Mantu”, artinya pengantin nginap. Nah disinilah yang banyak abis uangnya… haha. Ya gimana lagi, 5000 orang yang diundang. Habis lah segala sisi keuangan dikeluarkan. Ya alhamdulilah untuk uang nikah ini memang sudah lama saya siapkan, biar tidak pusing orang tua. Maklumlah Belitung masih krisis. Berikut video sekilas acara di Belitung:

Niatnya memang setelah menikahi gadis di Thailand, ya kerjanya di Thailand saja ya kan. Biar tidak ribet. Ya memang Bangkok ini seperti rumah kedualah. Betah disini, udah banyak kawan juga buat main bola. Haha Udah tahu lapangan lah ceritanya.

Namun kalau urusan cerita ke depan memang tidak ada yang tahu. Tawaran menarik pun datang, dan ini berasal dari universitas ternama, top ke 8 sedunia, National University of Singapore. Ini yang buat bingung tujuh keliling. Benar-benar dah!

Kalau boleh dibilang, cerita pindah ke Singapur ini sangatlah cepat. Ada salah satu professor dari NUS yang kirim email buat kolaborasi penelitian, ini karena record Top2% scientist kemarin. Record ini begitu serius di kalangan peneliti di NUS. Banyak mata melihat dan mengajak kerja sama. Alhamdulillah… Dan pas beliau tahu bahwa saya hanyalah seoarang postdoc/peneliti, beliau langsung mengkoneksikan saya ke kepala departmentnya. Langsung hari itu juga di lakukan zoom meeting dan berikutnya beliau undang ke Singapur gratis. Ya tentu saja melihat keprofessionalan seperti itu. Apa hendak dikata, lanjutkan permainan anak muda.

Setelah meyakinkan istri yang masih bingung dari pada saya, alhamdulillah, istri pun juga semangat ingin mencari pengalaman di negeri orang. Ya bisa dibilang, hidup kita di Thailand sebetulnya sudah nyaman, ya safe zone lah. Mau kemana lagi coba. Tapi setelah dipikir-pikir, kesempatan tidak datang dua kali ya kan. Kita tidak tahu nasib membawa kemana. Yang jelas pandai-pandailah bersyukur. Lagi pula jarak antara Singapur dan Batam (tempat adekku kuliah) begitu dekat jaraknya. Jadi ada sisi positif lebihnya juga.

Sat set sat set… Dua bulan sudah kita di Singapure sejak 31 October kemarin. Ya memang semuanya serba mahal di bandingkan dengan di Thailand., terutama untuk tempat tinggal yang harganya dihitung per kepala. Astaga… Untuk dua kepala itu kisaran 3000 Singapore dollar (75,000 baht atau 35 juta rupiah) per bulan. Saya dan istri masih shock ini. Haha InsyaAllah ada jalan. Memang selalu ada aja cobaan kalau kita baru pindah mah.

Namun ada satu hal yang kurang selama dua bulan di Singapur. Yaitu keluarga kecil kami, Dr. DokDek and Dr. Yuki. Singapur terlalu ketat urusan bawa kucing. Setelah vaksin, perlu menunggu 90 hari. Kemudian untuk booking karantina hanya tersedia sampai Juni tahun depan. Gimana ceritanya! DokDek dan Yuki ini teman kerja saya, disaat saya stress analisa data atau nulis edit manuskrip, mereka selalu buat aku ketawa dengan tingkah lakunya. Memang sih kita terkadang berantem, namun enaknya mereka tidak pernah ambil hati setelah dikasih Whiskas atau Cat creamy… haha Lagian istri tinggal sama Yuki sudah lebih dari 10 tahun. Bayangkan coba ikatannya gimana. Yang bukan pencinta kucing, memang gak ada rasanya. Tapi yang sesama cat lovers, pasti bisa merasakan. Sumpah saya juga sudah anggap mereka ini anggota keluarga deh.

Alhasil, kita balik sebentar untuk selebrasi tahun baru bersama mereka. Sungguh kangen mereka. My best friends! Please be strong. We can do this together!

Begitu saja lah refleksi tahun ini. Tahun depan insyaAllah disibukkan dengan banyak kerjaan, dan semoga tetap dikuatkan iman untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk istri, keluarga, dan sakitar, serta tetap bersyukur.

Thank you, 2024. Bismillah…

Bentar, ditengah-tengah kedua cerita tersebut, ada juga satu hal yang terjadi saat saya dan istri ke Vietnam, yaitu dimana saya diketemukan dengan pemuda ababil yang lagi mencari tentang Islam di salah satu masjid di Hanoi. Alhamdulillah.. dengan ilmu saya yang sedikit sekali tentang Islam, ini pengalaman pertama saya untuk mengislamkan seseorang. Ini sungguh luar biasa.

Perihal lain, jangan tanya pula kenapa belum punya momongan. Lagi program penundaan, insyaAllah segera. Banyak kali pertanyaan haha


This archive was written with my best friend, Dr. DokDek, in Bangkok.

Regards,

Joko Gunawan