Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Belitung Timur: Dilihat dari Kacamata Kek Nga

Pulau Belitung adalah pulau kelahiranku. Pulau kecil yang memiliki sejuta pesona bagi siapa saja yang memandangnya. Bukan itu saja, pulau ini merupakan sumber timah yang luar biasa. Dalam kata lain, pulau ini kaya, akan tetapi masyarakatnya gak kaya-kaya. Itulah fenomena!

“Timah sudah habis, sekarang tinggal lubang-lubang saja”, “setengah Belitung sudah jadi kebun kelapa sawit”, begitulah isu yang sering terdengar di telinga. Sayangnya, itu hanya hembusan kata saja. Keluhan memang diterima namun gerakan pemimpinnya seperti …… ah sudahlah! Perbandingan 3 tahun dan 1 tahun ke belakang, ini pantai Lalang perubahannya apa ya? Masih semak lah.  

“Ok lah, jangan mengeluh, kita berharap sama pemimpin yang baru saja. Pemimpin lama udah mau bubar. Tinggal menghabiskan budget anggaran yang tersisa untuk keperluan rumah tangga.”, seraya teman ngobrol di warung kopi sambil tertawa.

Itulah orang awam, tahunya mereka hanya bukti nyata, mereka tidak perlu retorika. “hey lapangan kerja dimana?” “hey pegawai kontrak kapan dingkat jadi PNS?”, “hey anggaran kemana?” “hey ini pembangunan struktural apa saja”? itulah pertanyaannya. Tidak salah, mereka hanya ingin melihat perubahan dan perlu kesejahteraan dari pemimpinnya.

Sekarang dua kandidat udah ada depan mata. Siapakah yang akan memimpin Belitung Timur, itulah pertanyaannya? Terlalu banyak para ahli yang menganalisa fenomena, baik dari kaca mata kuda, kaca mate betina atau kaca mata kek Nga. Ya itu hanyalah analisa semata, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya tersimpan di kepala. Susah kawan, terlalu banyak kepentingan, ditambah masalah pinggan (piring), dak akan mempan.

“Eh dia kan gak pernah berbuat di manggar ini, berkarir diluar, tiba-tiba pulang pengen jadi pemimpin saja”, begitula kata si dia. Tidak salah memang, kalau dilihat dari kaca mata kuda. Kuda di permainan catur selalu punya strategi yang indah. Mengingat saat ini jaman millennial, tidak salahnya memberi kesempatan sama yang muda. Hilangkan dulu kisah senioritas, biar hasil yang bicara. Namun pertanyaannya kembali awal, selama ini kontribusinya apa?.. “Jaku tek mun ade niat nak nyalon pun, kuanglah ditinggak2 Belitong ne bantu masyarakat siki-sikit, usa nak manga ne pas pemilihan baru ikap-ikap balik. Ngerti lapangan pun ndak”, ngomel lagi kawan sebelah.  

“Ah lebih baik kita memilih calon satunya saja, udah tau lapangan, banyak makan asam garam di Belitung timur ini”, celoteh si dia. Namun kawan satunya tidak terima, “lah kontribusi sebelumnya apa selama memimpin?” “tidak ada perubahan kok”. Tidak salah, itulah kaca mata betina alias emak-emak. Barang dapur, kebutuhan rumah tangga, fasilitas jalan-jalan tetap menjadi topik utama. Lagi-lagi masalah kontribusi ditanya kawan. Ditambah pula masalah corona. Makin ribet ini kepala. Kiape ini Kek Nga?

“Tapi kulihat kemarin banyak sekali harta kekayaan masing-masing calon”, kata dia. Kawan lain pun nanggapi, harta kekayaan tidak menjamin kawan. Kepentingan banyak, butuh uang banyak. Susah cari orang kerja ikhlas, semua berbayar. Kencing pun bayar lah.

Kek Nga pun berkata, “sudahlah, tidak perlu dipikirkan, dari semenjak SD kita selalu bertengkar siapa yang jadi ketua kelas. Segala cara dimainkan, dari mulai beradu visi misi, sampai bermain bawah tanah mencari duit di perigi (sumur)”. Di dunia politik sudah biasa, hanya anak kecil yang berebut permen. Dak dikasih, terus baper, terus pindah kawan, tapi pas di kasih, malah minta lagi, ngelunjak pula. Ya kemungkinan besar asal usul konsep politik, ya kayaknya melihat tingkah laku anak kecil ini. Itulah asumsinya.

Kek Nga pun tiba-tiba menambahkan, “Semalam aku ngeliat urang manggar ne lagak-lagak, sayang benar kan pemimpin e. Pemimpin e pun baik benar, dak baperan, benar tulus, dak terikat kan kepentingan partai. Aku tegoran belau, langsung belau nanya, ikam begawe dimane? Ini ade gawe idang ikam, ukan malah merik aku duit. tapi gawe nyate. Belau dak nak muat aku ne manga nak nyaman. Pas aku jalan-jalan ke pantai berse benar. Pantai Lalang to lagak benar, rapi dak telawan”. Dak lamak Celekap cucuk Kek Nga nampar pipi belau, “jaber war ikam ngigau senyum-senyum surang”.  

***

Cukuplah ulasan dari urang Belitong yang dak ada kontribusinya buat pulau sendiri (sambil minum chayen di Petchburi soi 7 Bangkok). Semoga kita selalu menjadi manusia pembelajar. Belajar dari masa lalu, belajar dari kesuksesan orang lain, belajar dari mana pun. Bukan belajar menerima apa saja yang dikatakan orang lain.

Yakin Belitong (Baik Belitong Barat dan Timur) menghasilkan generasi terbaik untuk pulau kecik ini. Asal pemimpin dan masyarakat same-same belajar. Masyarakat bisa belajar mengkritik yang baik, dan pemimpin e pun belajar nerima kritik dan eksekusi dengan cepat. Tujuannya sih cuma satu, Belitung kite ne maju. Sikok pesan ndak e…. (hanya anak Mahankar yang tau).

Wassalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *