Di zaman yang fenomenal ini, mengkritik (literally atau sarcastically) sudah menjadi kelebihan setiap orang, baik untuk tujuan mencari kelemahan seseorang, mencari pembenaran, atau merasa paling hebat, atau mungkin juga memang sepatutnya dikritik.

Mengkritik bagi sebagian orang itu beda-beda tipis dengar nyinyir, “ah dia mah bisanya gitu doang”, “ah dia mah dungu”, “ah kampret”, bermacam-macam tema yang dikeluarkan layaknya preman yang paling jago seantero muka bumi ini. Apapun alasannya dia paling benar.

Ada juga yang mengkritik, namun tanpa solusi, pokoknya disampaikan kesalahannya aja dengan berbagai point sembari dengan data-data yang ntah berantah dari mana asalnya, pokoknya data aja baik dari blog, koran, media masa, laporan emak-emak dan segala macam.

Oh bukan.. saya bukan pengkritik yang baik, kemampuan saya masih sangaat jauh mengkritik kesalahan orang, kesalahan sendiri pun masih banyak yang perlu diperbaiki. Kali ini saya hanya menyampaikan apa yang saya dapatkan di bangku sekolah.

Pengalaman saya, saat debat dengan orang Thai, China, Amerika, Vietnam dan macam2, kita sampaikan kelebihan-kelebihan yang sudah dicapai terlebih dahulu, kemudian baru dilanjutkan dengan kelemahan. Namun hati-hati, sebelum menyampaikan kelemahan seseorang, ada baiknya melihat cara pandang seseorang yang akan dikritik, standing point apa yang dipakai, apakah seseorang memakai alat ukur empiris menurut cara pandang postpositivist melalui pendekatan deduktif, atau dengan melihat multiple realities menurut cara pandang constructivist dengan pendekatan induktif, atau dengan pendekatan kolaboratif menurut participatory worldview, atau mungkin juga dilihat dari multiple stance dan mengkombinasikan semuanya dari cara pandang pragmatist. Kalau standing point ini berbeda antara dua kubu/orang/subjects, sampai kiamat pun dak akan nyambung ini barang. Sehingga muncullah salah kaprah, salah paham, saling cemooh, adu mulut, adu banteng macam-macam.

Yang sudah merasakan bangku sekolah, tentunya sudah pernah dengar namanya “critical appraisal” (ketik di google klu belum ngeh), dan diriku menghabiskan dua semester untuk belajar mengkritik karya orang, dari mulai melihat siapa pembuat karya/berita tersebut, apa latar belakangnya, mengapa membuat karya/berita tersebut, tujuannya apa, metodologinya apa, bias tidak, datanya bisa di generalisasi tidak, apa yg didiskusikan, apa kelemahannya. Jangan pula kau makan mentah-mentah itu karya/berita orang dan percaya.

Belajarlah.. jangan pula setelah lulus sekolah ataupun kuliah, bukupun dibuang, merasa paling pintar dan gak mau nerima pendapat orang lain. Dan merantaulah.. biar bisa melihat jenis-jenis manusia yang berbeda cara hidup dan cara pandang melihat dunia ini, biar kita tahu bahwa tidak semua yang kita anggap benar itu benar dimata orang lain, tidak pula salah apa yang selama ini kita permasalahkan. Sehingga kita akan lebih bijaksana menyikapi sesuatu.

Jika ingin mendistribusikan akal sehat, distribusikanlah dengan baik layaknya seorang yang pernah duduk dibangku sekolah (bukan berarti yang tidak sekolah itu tidak baik), karena mereka sudah diajarkan sebelumnya, mungkin karena sengaja, pura-pura tidak tahu, tahu namun hantam saja, atau cuek tanpa batas.

Ini hanyalah pendapat seorang anak kampong dari pulau Belitung nan kecil disana yang sedang mencari jati diri di Kampong buaya Kota Kecil di bawah emperan Florida, yang senantiasa terus belajar memahami cara pandang orang lain sebelum mengkritik untuk mencari solusi yang lebih baik.

Semoga kita selalu belajar dan menjadi manusia pembelajar dan baik pula.
Amiin.

Gainesville,
4 Februari 2019
Joko Gunawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *