TERIMA KASIH KOL, KENTANG, CABE, BAWANG ATAS SEGALA KENANGANNYA

Berkeliling ke Negara-negara orang bukanlah tujuan utamaku. Untuk bisa duduk belajar di bangku kuliahpun aku sudah sangat bersyukur, kala dimasa itu aku pun hanya mampu duduk dibangku SMK handayani manggar dengan jurusan akuntansi dengan harapan bisa langsung bekerja dan menafkahi hidupku. Namun Alhamdulilah takdir berkata lain, aku terjerumus di dunia keperawatan yang aku tidak tahu akan kemana profesi ini membawa hidupku. Dari pegang uang ke pegang pasien.. Arrghh ini bukanlah passionku…!!

Waktu demi waktupun berlalu, akupun mulai merasakan manfaat disiplin ilmu ini pada hidupku, karena aku bisa merawat orang tua serta sanak keluargaku. Akupun fokus untuk belajar dan belajar tanpa menghiraukan apa yang ada disekitarku, aku masih ingat ketika aku bisa menghapal 100 halaman selama 2 hari beserta titik komanya. Tapi itu hanyalah masa lalu, kapasitas otakku tidaklah seperti itu lagi. Rasanya cuma menghabiskan waktu saja dengan menghapal tanpa mengerti seutuhnya. Ku rubah pola belajarku dengan sedikit demi sedikit menganalisis berdasarkan pemikiran dan akal sehatku. Yah.. aku pun mulai dapat pola belajarku, yang hingga akhir ini bisa membawaku ke negeri gajah putih yang penuh dengan kesempatan serta tantangan yang seraya mengujiku.

Cepat, tepat, dan akurat adalah harapanku setiap aku mengemban amanah orang lain yang menyuruhku. Aku tidak terbiasa bekerja dengan gaya jalan pengantin yang penuh dengan hiasan. Bukan, bukan untuk diriku, tapi ini sekali lagi untuk menjaga kepercayaan orang lain, yang alhamdulilah sampai detik ini dosen pembimbingku masih sangat percaya dengan pekerjaanku. Beliaulah yang banyak memberikan kesempatan padaku, mulai dari membuat seminar, konferensi, membuat website, penelitian, mengajar, serta berkeliling ke Negara-negara Asia demi mewakili fakultasku, yang rencana 10 negara ASEAN menjadi tanggungjawabku. Tentunya aku akan berusaha semampuku untuk memberikan yang terbaik.

Filipina adalah Negara ketiga yang kita kunjungi setelah Kamboja dan Indonesia. Aku pun cukup terkesan dengan lika liku ibu kotanya. Nuansa spanyol masih begitu kental terasa, yang menjadi sejarah penjajahan dimasa lalu. Namun bukan itu yang menjadi fokusku selama berkunjung ke Negara ini, aku hanya terkesimak dengan pasar tradisional yang terletak diibu kota yang membuatku terdiam cukup lama memperhatikan dengan seksama.

Pasar ini langsung mengingatkanku akan rumah nun jauh disana, kota manggar Belitung timur yang kecil yang cukup susah terlihat di peta dunia. Kentang, kol, sayur mayur ini adalah bukti kerasnya hidupku dimasa lalu, di masa SMA yang dimana aku harus bangun setiap jam 2 pagi untuk membantu ayahku berdagang dipasar manggar. Memikul kentang kol seberat 100 kg adalah kebiasaanku dimasa SMA saat itu, mengupas kol, membersihkan daun bawang, termasuk mensortir cabe-cabe yang busuk untuk dipisahkan dari tangkainya yang membuat tanganku cukup kebal dengan rasa panasnya cabe tersebut. Seringkali akupun lupa kencing tanpa membasuh tanganku lebih dulu.. arrgh kena lagi deh!! Namun Aku pun berusaha semampuku untuk membantu orang tuaku demi menafkahi keluarga, dan sampai saat ini bisnis ini tetap berjalan yang alhamdulilah kita sudah mempunyai beberapa pasukan yang bisa menolong orang tuaku. Namun aku tetap membantu ketika aku pulang kerumah untuk nostalgia kenangan masa lalu. Hingga akupun terpikir untuk mengemas produk-produk ini menjadi lebih cantik, enak dipandang, dan tentunya berkualitas dan harganya mantap.

Terima kasih kol, kentang, cabe, bawang atas segala kenangannya. Aku akan terus berusaha.

This is an open access article distributed under Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)

Visit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Linkedin