PEMUDA CHAYEN DAN SEGALA PERMAINANNYA

Sombong!! Begitulah kata mereka yang belum gabung di meja chayen. Seakan menolak, tapi menunggu panggilan; Memaki tapi memuji; Mencemooh tapi memantau pergerakan. Yah, begitulah fenomena yang terjadi dan tak ada satupun yang menghiraukan.

“We do not open nor close the gate”. Siapapun bisa gabung dengan membawa segala perspektif. Kita bukan MLM yang mencari pemain baru untuk jual diri dan mendapatkan komisi, bukan juga cowok SPG yang menawarkan rokok ke semua orang, apalagi tukang bubur naik haji.

Grup chayen adalah tempatnya perkumpulan para pemuda sombong dan angkuh yang dikepalai oleh Kyai Ramadhan Tosepu.

Sombong!! Why? yah kita membawa konsep sombong ini hanya dengan satu kondisi “ We do not want to be an ordinary man only, that’s it!!” Kuliah, bermain, dan tidur bukanlah permainan kami. Kita butuh model satu lagi yaitu “memukul”. Alasannya satu: seringkali mahasiswa yang kuliah di Negara ASIA ini dicemooh, di bully, kurang aktif, kurang handal, beda kelas, dan beda rumpun… (tambahkan lagi yang lain). Namun benar juga sih, mereka di Eropa, Amerika… lah kita di Bangkok, di chayen kelas 35 baht pula haha.. Dari segala sisi arah manapun sudah kalah.

Akan tetapi hal ini tidak melemahkan semangat kami, justru ini menaikkan segala bentuk hawa nafsu birahi kami untuk memukul lebih keras. Haha… Hanya satu hal yang bisa dimainkan saat ini, yaitu menulis. Kita dibiayai oleh Negara untuk belajar menuntut ilmu, dan diwajibkan mengganti keuangan mereka dengan penelitian yang gemilang dengan hasil publikasi yang diterbitkan di Jurnal Internasional.

Nah, disinilah kita melihat peluang itu, kita mau lihat seberapa hebatkah yang kuliah diluar sana dalam hal publikasi, jelas pembimbing mereka semua native dan bakal mudah untuk proof-reading paper mereka. Lah kita pakai bahasa sansekerta ini… butuh satu bulan, 6 bulan, bahkan 1 satu tahun untuk beradaptasi .

Pembicaraan publikasi ini diawali dari meja chayen sejak maret 2015, disitulah kita memulai pertarungan sengit untuk menjual diri — Menjual cara berpikir kita yang jauh-jauh dari Kendari, Belitong, Makasar, Palembang, Bandung hanya dalam hal persoalan harga diri dan reputasi kampung masing-masing. Masa iya orang Kendari, Belitong, Makasar, Palembang, Bandung dak bisa publikasi. Kampungan!!! – tapi memang tinggal di kampung juga sih haha…

Sedikit-sedikit kita mengenal Scopus yang dari awalnya hanya sebatas menulis saja, awalnya bingung sih, tapi disinilah ternyata jalan menuju aktualisasi diri. Masa iya kita hanya melakukan penelitian dan diterbitkan di perpustakaan saja, ditumpuk, dan dicuekin. Alhamdulilah, satu persatu, sedikit demi sedikit tulisan kita yang acak-acakan bisa dibaca, dirapikan, dipoles, dimainkan, dan diterbitkan. Yang jelas menulis adalah topik utama.

Yah sesekali kita mencari hiburan lain lah, masa iya bicara paper melulu, kita lanjutkan dengan permainan bola, bilyar, catur dan segala macam olahraga termasuk jalan-jalan ke lumpini park.

Dengan kehadiran Pak Sudarman, pembicaraan menjadi lebih berwarna, dari topic kesehatan ke topik English Literature, sebisa mungkin kami menyeimbangkan, tapi berat ini barang haha… Sehingga akhirnya berujung dengan ngeband dengan lagu mbah surip jadi pilihan.

Muncul lagi pemain baru, Anton Agoda (Programmer kelas atas) , ini sebenarnya beda kelas, Kelas Agoda dan Kelas Chayen. Tapi beliau sungguh rendah hati, saking rendahnya beliau sesekali memukul Komandan Tosepu dengan pukulan Coding kiri dan kanan, namun jangan salah ternyata komandan kita punya pukulan Infra-red yang gak kalah menariknya. Sesekali beliau ucapkan kata Syntax, html dengan nada yang sungguh percaya diri, yang jelas membuat Pak Suparman mengagumi beliau.

Namun, Pak Suparman saat ini mulai melunjak, dari percaya kepada komandan Tosepu sampai akhirnya membully tanpa batas, sehingga akhirnya muncul pembantaian aroma-therapy dan nyamuk di meja chayen. Berat sih mau disatukan, tapi akhirnya bisa disambungkan oleh Walid (Warga Arab) yang meminta Pak Suparman potong rambut agar otak beliau sedikit jelas.

Namun saat ini, Pak Suparman saat ini sudah lega, karna akhirnya Kyai Tosepu angkat kaki dari Bangkok karena beliau sudah takut tinggal di Bangkok. Namun dalil beliau sih bukan takut, tapi Indonesia membutuhkan skill-skill beliau yang aduhai……………………………..berantakan!!! Haha

Ntah kemana pembicaraan ini berlangsung, cukup segitu aja malam ini. Nanti kita sambung lagi..

Yang jelas jebolan chayen, dr. Tri Hari Irfani saat ini menjabat sebagai Direktur RSUD Sriwijaya Palembang & Dr. Hasanuddin Nuru lagi memainkan daerah Makasar dengan segala lika liku politik yang terjadi. Kita lihat pukulan Kyai Tosepu dalam beberapa bulan / tahun ini.

Chayen Members: Ramadhan Tosepu, Joko Gunawan, Hasanuddin Nuru, Suparman, Tri Hari Irfani, Sudarman, Anton, Haerul Imam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *