SEKILAS KISAH KASIH DI PARE: KAMPUNG BAHASA INGGRIS

Sebelum melanjutkan S1 keperawatan, aku pun berniat untuk melancarkan kemampuan bahasa Inggrisku…. Yah walaupun niat lainnya hanya buat jalan-jalan keluar Belitung. Hehe Banyak kudengar kabar burung, ntah burung yang mana ini, bahwa orang-orang keluaran Pare ini pasti bagus semua bahasa Inggrisnya, tentunya itu menarik perhatianku walau tidak ada satu sen pun uang di kantongku. Jelas kali ini aku harus meminta uang dari orang tuaku, hingga ku keluarkan segala jurus bujuk rayu dengan senyuman lebar yang pas buat manisnya kopi susu manggar agar bisa dizinkan kesitu.

Cukup sulit waktu itu meyakinkan ibuku saat itu karena beliau khawatir anaknya yang ganteng ini merantau pergi jauh ke kampong orang yang tak tahu rimbanya. Namun akhirnya aku mendapat info dari Mas Aris, si penjual ayam lamongan di Belitung, yang saudaranya, Mr. Hendrix, menjadi pengajar di salah satu kursusan bahasa Inggris disana. Ku kontaklah beliau dengan semangat 45 agar beliau bisa menjemput dan mengurusku selama disana. Dan alhamdulilah aku pun akhirnya dizinkan dan tak cukup 2 hari aku langsung berpamitan dan meninggalkan sepinya kota Manggar pada tahun 2009.

Namun sebelum keberangkatan, seperti biasa ku selalu potong rambut plontos botak gak jelas yang seringkali banyak orang mengira diriku seorang polisi (yang gak kesampaian) haha.. namun sosokku cukup meyakinkan agar tidak kelihatan kaku di tempat orang, khususnya di bandara yang banyak copet, rampok, maling, kecoa, tikus mati dan lain-lain.

Singkat cerita aku pun akhirnya sampai di Pare, Tulungrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dan aku langsung disambut hangat oleh Mr. Hendrix yang ternyata umur kita sama, woalah.. penampakannya beda (mulai kurang ajar). Aku pun tinggal di kursusan Genta waktu itu yang ketika masuk ke dalam kursusan, aku langsung terkesimak karena disana lagi pada sholat Isya, baca Al-Qur’an dan semua tampang disana bernuansa Islamic banget. Seraya dalam hatiku berkata “wah pesantren bahasa Inggris ini, bakal jadi uztad anakmu nih mak”.

Kemudian aku pun disambut oleh penjaga komplek kosan, Mr. Agus, yang sungguh aku hormati karena keilmuan Islam dan akhlaknya yang membuat merasa nyaman ketika bercerita bersama beliau, dan beliau yang memperkenalkanku dengan teman-teman lainnya hingga bercerita sampai larut malam.

Dan kemudian subuh pun datang, yang biasanya dirumah ku males-malesan buat sholat subuh, kali ini ada yang menggedor sekaligus mendobrak pintu buat sholat subuh.. haha sungguh sadis! Ku langsung bergegas wudhu dan sholat, dan kemudian apa yang terjadi setelahnya….. kita disuruh menghapal kosa kata dan membacanya dengan lantang. Sungguh pengalaman ini tidak akan saya dapatkan lagi ditempat lain, dengan suasana yang begitu sunyi, didepannya banyak tanaman padi yang terkadang membuat diriku kangen akan senyumnya ibuku di Belitung sana. “Aku akan menjadi orang sukses bu”, seraya dalam hatiku.

Ku simpan semua semangat itu dan kemudian kuhabiskan hari-hariku selama 2 bulan di kursusan Genta ini. Hal-hal yang selalu menjadi ingatanku adalah cara belajar dan kekeluargaan disana. Tiap hari jum’at kita selalu jalan santai dengan dipasangkan dengan wanita solehah bernuansa surga yang terkadang membuatku terkesipu malu untuk berkenalan, hingga akhirnya akupun jatuh hati kepada wanita berhijab dengan senyumnya yang manis.. alamaaaak!!! Kacau dunia persilatan! Tapi apalah daya itu hanya sekedar angan-angan. Haha Disini juga selalu ada lompa pidato dalam bahasa Inggris, dan ku masih ingat ku harus hapalin kata pembuka dan penutup, sungguh-sungguh basic, dan aku sangat nikmati masa itu sambil menutupi malu, mau disimpan dimana ini muka!

Setelah dua bulan aku pun pindah ke kursusan lain dimana aku menemukan teman-teman baru disana, dan pindah ke zeal apartment. Aku ambil 7 kursusan yang berbeda dalam satu bulan, jadi setiap harinya ku mulai dari jam 4.30 hingga jam 9 malam tiada henti. Ku peras otak ini hingga mumet baik dari kelas vocab yang menghapal 50 kosa kata setiap hari, kelas grammar baik oxford, elfast basic 1,2, translation, advance, Toefl, kelas speaking daffodil, expert, marvelous dan lain-lain. Ku coba semuanya hingga tiada lagi rasa penasaran. Di tempat ini aku selalu termotivasi untuk maju, karena kalau dijalan selalu ketemu dengan orang yang mukanya kayak kamus oxford, ada yang cas cis cus berbahasa Inggris, pakai logat British American, dan ada juga Jawa English, medok abis !! macam-macam! Sampai-sampai akupun coba kelas mandarin selama 1 bulan disana. Haha sungguh terlalu! Ku habiskan 6 bulan disana dan tiga kali ganti kosan.

Disana kita menggunakan sepeda, nyewa satu bulan 50 ribu rupiah harganya saat itu, namun nasib tragis menerpaku, sepedaku hilang pemirsa! Alamak… ku keluarkan semua tenaga untuk mencari sepeda yang hilang namun taka da tanda-tandanya, dan aku harus ganti 200ribu rupiah. Apa-apaan ini!

Tiap malam minggu kita bersepeda bersama teman-temanku harry potta, rizki, asyari , irfan biasa ke Garuda Park, tak ada taman lain buat nongkrong, disana hanya mencuci mata sesama mahasiswa, dan aku pun kangen dengan nasi mawut ala pare (lupa nama tempatnya). Selain itu, kami juga bermain futsal tiap malam minggu dan siapa yang kalah debat bahasa inggris, mereka yang traktir dan beli tempe goreng didepan.

Kami di ZEAL apartment ini selalu debat tiga minggu sekali dengan isu-isu update yang setiap orang bisa mengekspresikan pikirannya, dan seringkali ku selalu jadi pemenang karena aku punya trik (yaitu berbicara soal data, namun untungnya mereka percaya saja) haha.. Penjaga di ZEAL selalu menyuruhku bertanya sepuuas-puasnya bagi yang baru masuk (member baru) biar mereka tahu bagaimana pukulan dari senior. Hehe

Kami sekamar bertiga, dan dikamar itu kami selalu menggunakan bahasa Inggris, apapun itu, bahkan kamar itu pun penuh dengan tulisan-tulisan hapalan kosa kata di dinding kamar. Ntah ini kamar atau gudang, sempit, berantakan, tidur dikasur seperti lantai.. namun jangan salah, inilah suka dukanya perjuangan kawan. Hehe

Dulu ada 99 kursusan disana, namun sekarang sepertinya lebih dari 200an kursusan, semua orang berlomba-lomba buka kursusan dengan biaya yang sangat kompetitif. Sungguh tempat sangat recommended bagi yang ingin mulai belajar bahasa Inggris.

Cukup segitu mungkin kisahku di Pare, nanti disambung lagi.

This is an open access article distributed under Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)

Visit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Linkedin