LOMBA ADZAN: INDAHNYA MASA KECILKU

Singkat cerita akupun langsung meminta nenekku untuk mengajariku membaca Al-Qur’an waktu jaman SD dulu, karena aku malu jika laki-laki itu tidak bisa membaca tulisan Arab. Namun waktu itu aku belum sampai ke Al-Qur’an tapi belajar dari mengkadam atau Iqra yang dimulai dari Alif, Ba, dan seterusnya.

Setiap habis sholat Magrib aku mulai membaca dengan suara lantang mengikuti apa yang disebutkan oleh nenekku. Alif….Alif!!! dan ternyata aku pun menghapal semua isi mengkadam itu sampai habis yang artinya aku tidak mengerti seutuhnya tulisan-tulisan Arab tersebut. Cuma berlomba-lomba bagaimana caranya agar bisa langsung lompat membaca ke Al-Qur’an.

Dan akhirnya tiba ku membaca Al-Qur’an dengan cover berwarna merah yang lusuh dan kubuka dengan ucapan Bismillah, ku mulai membacanya, akan tetapi akupun buta huruf waktu itu akibat kebiasaanku menghapal yang terlalu lebay. Tidak ada orang lain yang ku salahkan, hanyalah diriku yang terlalu bego’ bukan kempalang.

Setelah mendengar ada tempat pengajian di kampungku, kampong harapan, yang diajarkan oleh Mbah Susah kasan Mustajab, aku pun langsung tergiur dan meminta izin sama nenek untuk ikut pengajian tersebut. Namun pemirsa, aku baru sadar untuk ikut pengajian itu pada waktu SMP, jaman dimana aku mengenal cinta-cinta monyet yang seringkali aku diejek oleh teman-temanku dengan seorang perempuan berambut panjang di sebelah masjid yang bernama Qori.. haha Kalau ingat masa itu rasanya sangat lucu. But yeah.. aku emang suka sama si dia waktu itu, si kembang desa yang cukup terkenal yang termasuk juga kompetitorku dalam menjadi juara kelas di masa SMP…. Zzz it’s weird. Hehe

Kembali ke pengajian, dengan menghilangkan rasa maluku dari anak-anak SD yang sudah fasih baca Al-Qur’an, aku pun mengayuh sepeda busuku dengan kecepatan 160 km per jam agar tidak terlambat datang pada pukul 4 sore setiap hari. Aku pun menunjukkan kegigihanku untuk belajar, dan aku meminta si Mbah untuk mengajariku membaca Al-Qur’an dua kali sehari, baik di masjid setelah Zuhur ataupun setelah Isya di Masjid. Alhasil aku pun dua kali khatam Al-Quran dalam satu bulan. Masih ingat di masa itu, selalu ada perayaan khatam Al-Qur’an dirumah dan mengundang tetangga-tetangga dengan penuh nikmat. Salah satu adat-istiadat yang menyejukkan jiwa. Aku pun sangat berterima kasih sama nenekku dan Mbah Susah yang pada akhirnya aku bisa membaca Al-Qur’an dengan fasih tanpa hambatan.

Disamping itu, aku pun bersama temanku, Fauzi ramadhan, selalu berlomba-lomba untuk adzan di masjid, bahkan kami selalu mengatur jadwal adzan, misalnya magrib giliranku, terus Isya giliran si Fauzi, begitu terus setiap harinya. Hingga akhirnya setiap bulan puasa, kami selalu mengincar perlombaan Adzan mewakili masjid kami di berbagai tempat, bahkan kami terkadang disuruh menyamar untuk mewakili SD lain, SD 20 waktu itu, padahal aku saat itu sudah SMP, dan juara 1,2,3 itu selalu di tangan. Dan aku pun tersenyum sampai saat ini ternyata piala itu masih ada di masjid harapan yang ada sejak 17 tahun (tahun 2000) yang lalu. Dan aku pun mendapat piagam penghargaan dari Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, yang artinya jelas kita tinggal sekampung.

Hingga kemudian aku mewakili Manggar untuk lomba Adzan di Tanjungpandan waktu itu, aku lupa tahun berapa, dan ini merupakan perlombaan terakhir sebelum aku menginjak SMA. Ku keluarkanlah gaya Adzan khas Belitung waktu itu yang aku hanya bisa mendapatkan juara harapan 1 (juara 4), yang ternyata aku dikalahkan oleh gaya Adzan yang tak pernah ku dengar sebelumnya. Aku pun terheran mendengarnya, gaya adzan yang begitu sejuk di hati.

Hampir satu bulan aku memikirkannya dan ternyata aku baru tahu dari temanku bahwa gaya adzan tersebut seringkali dikumandangkan di Bangladesh. Sampai sekarang akupun masih meniru dan menggunakan gaya adzan tersebut, karena suara dan lantunan lagunya yang begitu menyentuh hati yang mendengarnya. Yang jelas, aku sangat merindukan masa-masa kecilku itu.

Terakhir, semoga almarhumah nenekku, Mislami binti Sidi, tenang disana dan segala amalnya diterima di sisi Allah SWT. Terima kasih telah mengajarkanku mengaji ya nenek. Dan tentunya terima kasih yang setinggi-tingginya untuk Mbah Susah yang selalu menasehatiku sampai saat ini. Alhamdulilah, semoga kita dipertemukan kembali dan tentunya dipertemukan dengan bulan puasa berikutnya. Amiiin.

Mungkin cukup segini cerita kali ini, selamat bermalam minggu kawan!

This is an open access article distributed under Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)

 

Visit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Linkedin