MEMBENTUK RASA NASIONALISME ALA THAILAND

Thailand atau Muangthai adalah satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah, yang sering disebut juga sebagai Negeri Gajah Putih. Muangthai diambil dari nama salah satu suku bangsa di sana, yaitu suku Thai artinya “Negara Dahulu”, dan orang Eropa menyebut Negara ini “Siam”. Bentuk pemerintahan Thailand ini adalah kerajaan berkonstitusi, namun pemerintahan sehari-hari dikendalikan oleh seorang perdana menteri.

Politik Thailand saat ini dilakukan dalam rangka sebuah monarki konstitusional yang demokratis , dimana Perdana Menteri adalah kepala pemerintahan dan raja turun temurun adalah kepala negara . Sebagai Kepala Negara, Raja melaksanakan kekuasaan legislatifnya melalui parlemen; kekuasaan eksekutifnya melalui cabinet; dan kekuasaan yudisial melalui pengadilan. Kerajaan memiliki hak untuk mendukung dan hak untuk memperingatkan pemerintah jika pemerintah tidak menjalankan urusan negara atas nama kebaikan rakyat.

Saat ini Thailand sedang berkabung semenjak meninggalnya Raja Rama IX, Bhumibol Adulyadej (13/10/2016), yang merupakan monarki yang paling lama berkuasa di dunia sejak akhir abad ke -18. Seorang Raja yang sangat dicintai rakyatnya, yang tak pernah sedikit pun terdengar seseorang yang mengeluh akan kepemimpinannya. Sebagai orang asing yang berada di Thailand selama 4 tahun, aku pun bisa merasakan rasa sedih dan kehilangan rakyatnya.

Berada di tengah-tengah masyarakat Thailand, khususnya di Bangkok, mengajarkanku banyak hal, terutama tentang rasa nasionalisme bangsanya, yang diikat oleh aturan yang lumayan ketat.

Di Thailand, kerajaan dan keluarga kerajaan dilindungi hukum Lese Majeste, yaitu pasal yang melindungi anggota keluarga kerajaan Thailand dari hinaan dan ancaman. Berdasarkan pasal 112 hukum pidana Thailand, seseorang yang “merusak nama baik, menghina, atau mengancam raja, ratu, putra mahkota, atau bangsawan” akan dihukum penjara hingga 15 tahun. Aturan ini tidak berubah sejak pemberlakuan hukum pidana pertama Thailand pada 1908, kecuali ketika sanksi dalam pasal Lese Majeste diperkuat pada 1976. Lese Majeste juga muncul saat konstitusi Thailand diamendemen. Bunyinya, “Raja harus ditempatkan di singgasana dalam posisi yang disanjung dan tidak boleh dicemari. Tiada seorang pun boleh menyampaikan tuduhan atau aksi dalam bentuk apapun terhadap Raja.” Aduan Lese Majeste bisa disampaikan siapa saja dan terhadap siapa saja. Setiap delik aduan itu harus diselidiki secara formal oleh kepolisian.

Pernah beberapa teman-teman Thai bercerita kepadaku, bahwa ada bule asing yang tanpa sengaja menghina keluarga raja di dalam taksi, yang kemudian si sopir langsung menurunkannya di kantor polisi, dan dipidanakan dan dipenjara selama 1 tahun. Sungguh ironis, oleh karena itu para pengunjung wajiblah berhati-hati. Contoh lain, yaitu harus berhati-hati dalam menulis status facebook, ngepost gambar yang bernada kritikan, hinaan, atapun masukan sekalipun yang menyangkut dengan kerajaan. Polisi siap menangkap saudara.

Selain aturan hukum Lese Majeste tersebut, ada hal-hal lain yang cukup menarik perhatian, salah satunya yaitu menyanyikan dan mendengarkan lagu kebangsaan Thailand di bioskop sebelum film dimulai. Para penonton diwajibkan berdiri sampai lagu tersebut selesai sembari menonton video Raja Thailand selama masa kepemimpinannya bersama rakyatnya. Pertama kali aku menemukan fenomena ini, aku pun langsung tersentak, awalnya semangat nonton, malah jadi sedih dikarenakan mungkin belum terbiasa.

Contoh lain yaitu dimana setiap hari pada pukul 8 pagi dan jam 6 sore, lagu kebangsaan Thailand Phleng Chat akan dikumandangkan di seluruh kawasan Negara Thailand untuk menghormati raja. Saat lagu dimulai, setiap orang baik di jalan, di BTS sky train harus berhenti tanpa melakukan apapun dan berdiri, dan tidak boleh berbicara sampai lagu selesai. Aneh bukan? Namun begitulah cara-cara yang dilakukan untuk membentuk dan membangun rasa nasionalisme warga Thailand dan menghormati Rajanya. Cara ini untuk memberitahukan secara terus menerus bahwa Raja tidak pernah berhenti mengurus rakyatnya, bermandikan keringat, kurang tidur, jarang duduk, namun tidak pernah mengeluh. Semoga fenomena ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita warga Indonesia untuk membangun rasa nasionalisme yang lebih tinggi dan saling mendukung satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *